TRENDING

10 Jun 2008

Ulat dan Daun Hijau

Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan
sehingga di mana-mana pepohonan tampak menjadi hijau.
Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang
bergoyang-goyang diterpa angin.
"Apa kabar daun hijau!!!" katanya. Tersentak daun
hijau menoleh ke arah suara yang datang.
"Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus,
mengapa?" tanya daun hijau.
"Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk
makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?" kata ulat
kecil.
"Tentu ... tentu ... mendekatlah ke mari."
Daun hijau berpikir, jika aku memberikan sedikit dari
tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap
hijau, hanya saja aku akan kelihatan belobang-lobang,
tapi tak apalah.
Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun
hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima
kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian
tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat
mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh
kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri
daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana
sini, namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil
yang lapar.
Tidak lama berselang ketika musim panas datang, daun
hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia
jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.
Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga
kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh
akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang
baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati"
bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat
sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan
seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak
minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk
kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan
kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan
kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak
mudah, tetapi indah.
Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti
daun yang berlobang, namun itu sebenarnya tidak
mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah
akan tetap memberkati dan memelihara kita.
Bagi "daun hijau", berkorban merupakan satu hal yang
mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia
bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena
pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya
karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal
sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan
jatuh.
Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara
kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini
dengan perbuatan-perbuatan baik: kasih, pengorbanan,
pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang
menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi
anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu
bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih
banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan
lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada
taranya dari Yesus hingga kita bisa diselamatkan
seperti sekarang ini.

Posting Komentar

Berikan komentar Anda ..... Tuhan Memberkati.....

 
Back To Top