TRENDING

10 Jun 2017

Ibadah Sia-sia dan Murni

www.renunganhariankristen.com
www.renunganhariankristen.com

Kemarahan merupakan unsur yang sering terlibat dalam konflik hubungan antar manusia. Bahkan, bagi beberapa orang kemarahan merupakan masalah yang serius dalam hidupnya dan harus mendapat perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh.
Pertengkaran sering dimulai dari komunikasi yang buruk. Kemampuan mengelola kemarahan harus dimulai dari kemampuan mengendalikan lidah. Yakobus menyarankan agar kita mengurangi kecenderungan kita untuk cepat mengeluarkan kata-kata, dan sebaliknya belajar menjadi pendengar yang baik.
Bagi orang percaya, mengendalikan lidah bukan hanya masalah etika melainkan merupakan salah satu wujud melakukan firman Tuhan. Bila kita menerima firman Tuhan, meneliti, dan melakukannya maka seharusnya kita juga mampu mengekang lidah kita. Bahkan bagi Yakobus, ketidakmampuan mengekang lidah menjadi tanda suatu ibadah yang sia-sia. Mereka yang pernah sakit hati oleh perkataan kita tentu juga akan memberikan cibiran yang senada, “Percuma rajin ke gereja kalau perkataannya selalu menyakiti orang lain”. Ibadah yang murni ditandai dengan mempraktekkan firman Tuhan dalam kehidupan kita.
Kapan dan kepada siapa Anda melontarkan kata-kata pedas yang membangkitkan kemarahan orang lain? Apapun alasannya, mintalah pengampunan dari Tuhan, jikalau perlu lakukan pemberesan dengan orang tersebut!
Mintalah kekuatan agar Anda dapat memakai lidah Anda mengeluarkan perkataan yang baik dan membangun orang lain! [GKBJ – Renunganhariankristen.com]

Note: artikel ini telah dipublikasikan terlebih dahulu oleh Renunganhariankristen.com

25 Jul 2015

Secangkir Coklat Panas


Sekelompok alumni yang sudah mapan dalam karir, sedang berbincang-bincang pada saat reuni. Lalu teringat dengan mantan dosen mereka yang telah pensiun serta bersepakat pergi mengunjunginya bersama-sama.

Saat berkunjung, mereka berbicara tentang berbagai hal. Tanpa disadari perbincangan itu berubah menjadi keluhan, stres dan masalah pekerjaan. Sebagai tuan rumah, sang mantan dosen pergi ke dapur untuk menyajikan coklat panas kepada murid-muridnya itu. Ia pun mengaduk coklat panas dalam wadah yang berbeda-beda. Ada yang diaduk dalam teko besar, ada dalam cangkir porselen, gelas, kristal. Bahkan beberapa diantaranya hanyalah cangkir yang sangat sederhana. Ada beberapa yang mahal dan cantik.

Sang dosen lalu mengajak mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut. Segera masing-masing dari mereka mulai memegang secangkir coklat panas yang mereka pilih di tangan mereka. Kemudian sang dosen berkata: “Lihatlah semua cangkir yang bagus, dan mahal, semuanya telah diambil, yang tertinggal hanyalah yang biasa dan yang murah”.

“Adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik bagi kalian semua, itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian. Cangkir yang kalian minum tidak menambahkan kualitas dari coklat panas tersebut”.

“Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya; tetapi secara tidak sadar kalian menginginkan cangkir yang terbaik. Kemudian kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir masing-masing”.

Ia sejenak berhenti. Kemudian melanjutkan kembali ucapannya. “Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas; pekerjaan, uang dan kedudukan di masyarakat adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki. Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya”.

Kisah secangkir coklat ini mengajarkan kepada kita tentang makna kebahagiaan dalam hidup. Bahwa saat manusia tidak memiliki semua yang terbaik, maka mereka hanya perlu berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki untuk merasakan kebahagiaan. Manusia diajak untuk tetap bersyukur atas segala hal yang dimilikinya.

Sumber : berbagai sumber/jawaban.com/ls

17 Jan 2015

Tembok Berapi

Dan Aku sendiri, demikianlah firman Tuhan, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya (Zakaria 2:5).

Tembok Besar di Tiongkok mulai didirikan pada abad ke-3 SM. Tembok yang termasuk dalam tujuh keajaiban dunia ini memiliki panjang sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer). Tembok Besar tersebut dibangun untuk melindungi rakyat dari serbuan mendadak para pengembara dan menjaga mereka dari penyerangan yang dilakukan oleh negara-negara musuh.

Dalam kitab Zakaria 2, kita membaca kisah tentang tembok perlindungan yang lain. Zakharia mendapatkan sebuah penglihatan lain, yaitu penglihatan tentang seseorang yang sedang memegang tali pengukur untuk mencoba memastikan panjang dan lebar Yerusalem (ayat 1 dan 2). Pria itu bermaksud untuk membangun kembali tembok benteng yang mengelilingi kota.

Orang ini kemudian diberi tahu bahwa ia tidak perlu membangun benteng itu kembali karena Yerusalem akan dipenuhi oleh banyak umat Allah sehingga tembok Yerusalem itu tidak akan mampu memuat mereka semua (ayat 4). Selain itu, mereka tidak lagi membutuhkan tembok karena Tuhan telah berjanji, “Aku sendiri ... akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya” (ayat 5).

Tembok lahiriah dapat dikikis atau dirobohkan, betapa pun tinggi dan kokohnya tembok tersebut. Namun sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai tembok perlindungan terbaik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, yakni kehadiran Allah secara pribadi. Tak satu pun yang dapat mencapai kita tanpa terlebih dahulu melewati Dia dan kehendak-Nya. Di dalam Dia kita aman dan tenteram.

Keamanan tidak ditemukan dalam ketiadaan bahaya, tetapi dalam hadirat Allah.

[Daily Devotional - Jawaban.Com]

Muslihat Kuda Troya

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Efesus 6: 12).

Dalam cerita perang Troya dikisahkan tentang bagaimana pasukan Yunani mengepung kota Troya selama sepuluh tahun tanpa hasil, membuat kuda-kudaan raksasa dan mengisinya dengan prajurit pilihan. Mereka lalu pura-pura berlayar pergi. Warga Troya pun patung-patung itu sebagai strofi kemenangan dan menyeretnya ke dalam benteng. Dengan akal muslihat itu, prajurit Yunani pun keluar dari perut kuda, membuka gerbang bagi prajurit lain yang menanti di luar, lalu mulai mengencarkan serangan menaklukkan Troya.

Tanpa kita sadari, kita sebagai orang-orang percaya juga kerap terperangkap dalam jebakan si jahat. Kita kerap diintai dalam sebuah peperangan sengit. Memang bukan peperangan fisik, seperti perang Troya, tetapi peperangan rohani yag tak kelihatan. Musuh kita digambarkan sebagai para penguasa dari dunia kegelapan dan roh-roh di udara. Mereka memiliki tabiat yang sangat jahat dan licik. Dengan tipu daya kelompok ini menyusup ke dalam benteng pertahanan orang percaya untuk merusak kesatuan dan mencemari kesucian hidup orang beriman. Mereka menyerang dan membengkokkan lembaga gereja, keluarga, pengadilan hingga negara. Sehingga tak sedikit diantaranya berakibat pada perpecahan dan kekacauan dalam satu tubuh.

Namun seperti difirmankan dalam Efesus 6:12 agar kita tetap waspada dan mengenakan senjata perlengkapan Allah yang mampu menghadang serangan si jahat (Efesus 6: 13-16). Dengan itu, kita sepatutnya tetap berpegang teguh pada firman Tuhan sembari berdoa agar muslihat seperti hasutan, kebencian, iri hati, hawa nafsu dan niat jahat tidak berkuasa atas kita. Minta Tuhan agar senantiasa memagari kita dengan kuasa melawan si jahat.

Firman Tuhan adalah senjata ampuh yang mampu melawan kuasa jahat.


[Daily Devotional - Jawaban.com]

8 May 2014

Saat Doa harus di Koreksi

Suatu malam seorang gadis duduk berdoa meminta pada Tuhan agar pasangan hidupnya di pertemukan dan dia berkata " Tuhan jika aku hendak Kau pertemukan dengan pasangan hidupku berilah aku pasangan yang satu suku seperti aku ini Tuhan, Amin" begitu cepat Tuhan menjawab doa itu tak berapa lama selang seminggu sang gadis bertemu dengan pria sesukunya dan satu suku yang lainnya.

Dimulai dengan hari pertama yaitu hari Senin bertemu dengan Sihombing, Selasa bertemu dengan Siregar, Rabu bertemu dengan Lubis, Kamis bertemu dengan Suku Lain ( Manado) Jumat bertemu dengan Sinaga, memang terlihat lancar dan mulus akan tetapi dari semua yang Tuhan hantarkan kepada sang gadis, sang gadis berpikir dan mempertimbangkan kembali, dan hal yang yang dipertimbangkan ini bukan hal yang mudah, mereka semua baik, meski baru kenal sesaat yang menjadi masalahnya adalah dari ke 5 pria diatas hanya satu yang anak Tuhan yaitu Pria Manado sementara sang gadis tidak begitu menyukai pria ini, akhirnya sang gadis berseru kembali dalam doanya " TUHAN jika memang Engkau hendak mempertemukan ku dengan pasangan hidupku yang satu suku aku memohon kepadaMU, biarlah aku bertemu dengan Pria yang satu suku namun sama seperti aku yang adalah anakMU BAPA, dan kami akan tinggal dengan naungan KasihMU Amin".

Saat doa mulai dikoreksi kembali bukan kita mengatur TUHAN akan tetapi TUHAN membiarkan kita untuk memilih hal terbaik bagi kita jangan dibutakan oleh Cinta Manusia tetapi jadilah Manusia yang selalu membutuhkan Cinta TUHAN dalam segala Hal. semua yang ditawarkan Tuhan saat itu berlalu karena tidak sesuai dengan kriteria sang gadis dengan pegangan bahwa selain satu suku ternyata sang gadis lebih memilih SATU IMAN di dalam TUHAN, TUHAN tahu apa yang terbaik bagi kita, andalkan TUHAN dalam setiap liku liku kehidupan kita

Tuhan memberkati kita semua



Oleh: Marito Purba


Sakit Yang Menimbulkan Sukacita

Bagi sebagian wanita, bersalin adalah hal yang paling tidak mereka inginkan karena rasa sakitnya, namun sadarkah para wanita bahwa semua itu telah tertera sekian lama di dalam Alkitab dan itu adalah hukuman yang tidak bisa kita lalui karena kita adalah wanita, berbahagialah setiap wanita yang dapat menikmati indahnya menjadi ibu saat bersalin secara NORMAL.

Detik detik bersalin ada saja ulah setiap wanita, ada yang berteriak, marah-marah, menangis, atau terdiam seribu bahasa tanpa sepata katapun. saat hal ini saya alami saya merasa bersyukur dan selalu berserah, karna saya yakin TUHAN ada bersama saya saat itu juga dan saya tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa semua itu harus saya lalui. saat saya merasakan sakit saya mulai menaikkan pujian, "BAPA ku datang padaMU, naikkan ungkapan syukur atas kasih anugrahMU yang indah di setiap waktu pagi hari, siang hari, sore dan malam hari, tak hentinya mengucap syukur atas kebaikkanMU" pujian ini terus saya nyanyikan selagi saya bisa.

Dan ketika tiba saat yang tak terkatakan itu pujianpun terhenti rasa panas dipinggang, nyeri di punggung, mulas yang begitu dasyat di bagian perut bawah. sejenak hilang dan tak lama datang lagi, kembali saya bernyanyi dengan pujian yang sama dari rasa tenang sampai menangis karena mulai merasakan sakitnya kembali, satu kalimat yang saya ucapkan " TUHAN YESUS KUATKAN AKU" begitu seterusnya saya mensyukuri kondisi saat itu dan saya merasa bahwa persalinan saya sangat mudah adanya, tanpa bidan diruang tunggu, dan suami yang memegang tangan saya untuk mensuport saya juga kakak yang menemani dengan yakin ditempat tidur yang begitu tinggi sambil memegang besi tempat tidur tersebut saya berkata " dalam nama YESUS " jagoan kecil kami keluar dan menangis memberitahukan bahwa dia sudah sampai, saya terharu dan menangis betapa luarbiasanya TUHAN mendampingi setiap wanita yang berjuang untuk melahirkan anaknya, namun apakah semua wanita meminta kepada TUHAN untuk didampingi melalui masa sulitnya?

Terima kasih TUHAN untuk penyertaanMU, hal yang selalu saya ingatkan kepada teman teman saya, percaya bahwa TUHAN akan membatumu dan ingat itu sudah menjadi milik kita bahwa sakit saat bersalin memang harus dilalui. hanya YESUS yang sanggup untuk melepaskan kita dari segala rasa sakit dan segala rasa sesak. mungkin kisah ini tersengar kuno tapi sungguh nyata bagi wanita yang mau mengalami bahwa TUHAN itu LUAR BIASA.

Oleh: Marito Purba

30 Apr 2014

Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi menjadi seorang jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan ia selalu berdoa kepada Tuhan agar impiannya suatu saat nanti akan menjadi kenyataan.


Sayangnya, ketika dirinya hendak bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak karena memiliki telapak kaki yang rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan mimpinya dan mulai menyalahkan Tuhan karena tidak menjawab doanya. Ia merasa kalah dan memiliki rasa amarah yang belum pernah dimiliki sebelumnya.


Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun kini dia tidak mempercayai-Nya lagi sebagai seorang sahabat. Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke gereja. Ketika orang-orang berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang kebingungan.


Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Setelah beberapa tahun kemudian, dia menjadi seorang ahli bedah yang handal dan terkenal. Sekarang semua pasiennya yang tadinya tidak memiliki kemungkinan hidup lagi, kini mempunyai kesempatan untuk hidup yang baru. Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan banyak nyawa, baik anak-anak maupun orang dewasa. 

Ketika dirinya tidak lagi muda, ia melatih para ahli bedah lainnya sehingga lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.


Pada suatu hari ia meninggal dan pergi menjumpai Tuhan. Di tempat itu, pria tersebut bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, "Pandanglah ke langit, anak-Ku, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan."


Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa agar bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Dirinya menjadi sombong dan ambisius yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk bertempur dalam suatu perang dan berada di garis depan. Di posisinya tersebut, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangisi kepergiannya.


Lalu Tuhan berkata, "Sekarang lihatlah bagaimana rencana-Ku telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya. Hari demi hari, ada begitu banyak nyawa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya. Kehidupan baru telah diberikan Tuhan kepada mereka melalui dirinya dengan menjadi seorang ahli bedah.


Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian yang sama dengan dirinya untuk menjadi seorang prajurit, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui operasi bedah yang dilakukannya. Hari ini, anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Pria tersebut telah menyelamatkan nyawanya.


Pada hari itu, ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alat-Nya untuk menyelamatkan banyak jiwa dan memberikan kesempatan kepada seorang anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit.


Sumber : renungan-harian.com

18 Sept 2013

Attitude





1968, when Kent M. Keith* was a 19-year-old sophomore at Harvard University, he wrote "The Paradoxical Commandments" as part of a booklet for student leaders. He describes the Commandments as guidelines for finding personal meaning in the face of adversity:


1. People are illogical, unreasonable, and self-centered. Love them anyway.

2. If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives. Do good anyway.

3. If you are successful, you will win false friends and true enemies. Succeed anyway.

4. The good you do today will be forgotten tomorrow. Do good anyway.

5. Honesty and frankness make you vulnerable. Be honest and frank anyway.

6. The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds. Think big anyway.

7. People favor underdogs but follow only top dogs. Fight for a few underdogs anyway.

8. What you spend years building may be destroyed overnight. Build anyway.

9. People really need help but may attack you if you do help them. Help people anyway.

10. Give the world the best you have and you'll get kicked in the teeth. Give the world the best you have anyway.

The essence of these Commandments is that each of us must choose to do what we think we should do, even when we think we have good reasons not to. They remind us that we are capable of rising above common practices that demean our nature and our culture.
WHAT AN ATTITUDE!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

4 Aug 2013

Mengampuni dan Memaafkan

Jenderal Horace Porter pernah menulis tentang percakapannya dengan Jenderal Ulysses Grant suatu malam saat mereka duduk dekat api unggun.

Ditulis oleh Porter:
"Jenderal Ulysses, Anda luar biasa, walaupun Anda dididik dalam kekerasan militer, dan selalu mengalami permainan kasar dalam tugas garis depan.

Anda tidak terpancing untuk mengumpat.
Saya tidak pernah melihat anda mengucapkan KATA-KATA KASAR sekalipun.

"Anda punya alasan untuk hal ini?", tanya Poter.

Grant menjawab,
Saya tidak mau membiasakan mengumpat. sejak remaja saya tidak pernah melakukannya, dan ketika Saya dewasa, Saya memandang mengumpat adalah sebagai suatu tindakan KEBODOHAN.

Karena kata-kata kasar membangkitkan AMARAH diri kita sendiri dan menyulut kemarahan orang lain.

Saya tidak pernah melihat kehidupan yang berkualitas dari seorang pemarah, selain LEMAH dan RAPUH dari segi spiritual.

Seorang PEMARAH, adalah seorang yang lelah, ia seorang yang berperang dengan dirinya sendiri, sekalipun ia menang, ia HANCUR.

"Tidak ada yang lebih BURUK dari pada seorang yang menjadi marah sampai ia tidak dapat menguasai diri"

"Pada saat kita marah, kita telah kalah"

"Pada saat kita membenci, Kita telah terkunci"

"Pada saat kita mendendam. Kita menjadi tawanan".

Solusi untuk hal ini adalah:
"MENGAMPUNI dan MEMAAFKAN"

Sumber: Broadcast Blackberry
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

2 Aug 2013

Kisah Wanita Tua dan Pot Retak

Seorang wanita tua Cina memiliki dua pot besar, masing-masing tergantung di ujung kayu pikulan yang ia bawa di lehernya. 
Salah satu pot memiliki retak di dalamnya sementara pot lain sungguh sempurna dan selalu dapat menampung air secara penuh. Pada akhir perjalanan panjang dari sungai ke rumah, pot yang retak ini senantiasa tiba dengan kondisi setengah penuh. Kondisi ini berlangsung setiap harinya selama dua tahun.

Berkaca pada apa yang ia sudah kerjakan, pot yang sempurna menjadi sangat sombong dengan prestasi yang ia miliki. Sementara pot yang retak merasa malu akan ketidaksempurnaan yang ia punya.

Sampai satu hari karena menganggap telah gagal, pot yang retak pun menghampiri wanita tua ini dan mengutarakan isi hatinya. "Saya malu pada diri sendiri, karena ada retakan pada sisi saya yang menyebabkan air bocor sepanjang perjalanan kembali ke rumah kamu."

Mendengar hal tersebut, sang wanita tua ini pun tersenyum dan menjawab, "Apakah kamu memperhatikan bahwa ada bunga-bunga di sisi jalanmu, tapi tidak di sisi pot yang sempurna?" "Tahukah kamu itu semua terjadi karena aku sudah tahu tentang kecacatan yang kamu miliki dan sebabnya aku menanam bibit bunga di sisi jalan dimana kamu aku bawa, dan setiap hari saat kita berjalan kembali, kamu menyirami mereka."

"Selama dua tahun aku telah mampu memilihkan bunga-bunga yang indah untuk menghias meja di rumahku. Tanpa kamu yang sebagaimana kamu sekarang, tidak akan ada keindahan yang mewarnai rumahku ini."

Setiap dari kita memiliki kekurangan masing-masing yang unik. Namun retak dan ketidaksempurnaan masing-masing inilah yang membuat kita kian menarik dan bermanfaat. Satu hal lagi, percayalah Tuhan pasti selalu punya tujuan mulia menciptakan kita seperti kita sekarang ini.  

sumber: jawaban.com

1 Aug 2013

Surat Dari Tuhan: Aku Menjawab Doa

Anak-Ku Tercinta,

Apakah Aku akan memberimu segala hal yang kamu minta? Nah, menjawab dia merupakan urusan-Ku. Sejumlah orang mengatakan," Berhati-hatilah dengan yang kamu doakan, karena itu bisa terjadi." Kukatakan, "jika kamu berdoa sesuai dengan yang Kuinginkan, maka akan terjadi."

Sekarang janganlah datang kepada-Ku dengan doa yang meminta jagat raya bisa muat di dalam sarung tangan base ball mu atau menginginkan semua mobil yang ada di Amerika. Jadilah realistis. Tetapi jika ada sesuatu yang ingin kamu minta kepada-Ku –sesuatu yang tak dapat kamu lupakan- maka doa itu mungkin berasal dari-Ku. Doakanlah kembali kepada-Ku dan percayalah kalau Aku akan menjawabnya.

Ingatlah, Aku dapat melakukan apa pun. Tiada istilah orang yang percaya secara berlebih-lebihan terhadap-Ku. Mintalah saja kepada-Ku.

Sang Pemberi,
Tuhan

Sumber : disadur dari email dari Tuhan (Claire Cloninger & Curt Cloninger)

16 Jul 2013

Teachings of the Lord


 Tuhan nggak membiarkan hidup semudah Doraemon,
Yang punya apa saja dalam kantongnya,
Karena Tuhan tau, tidak semua bisa dibuat oleh manusia,
Tanpa tangan Tuhan yang bekerja.

Tuhan melarang untuk hidup seperti Giant/Suneo,
Karena Tuhan tidak mau,
Kita kuat tapi keras seperti Giant,
Kita diberkati luar biasa, tapi angkuh seperti Suneo,
Kita bangga akan kekuatan kita sendiri, bukan membanggakan kuasa Tuhan,
Kita bangga akan keberhasilan yang kita raih, bukan membanggakan karunia yang dari Tuhan..

Tapi, Tuhan mengajarkan untuk hidup seperti Nobita,
Walaupun bodoh, tetap mengasihi..
Walaupun disakiti, tetap mengampuni..


Oleh: Alvin Irene Andmardi
 
Back To Top