TRENDING
Showing posts with label penguatan iman. Show all posts
Showing posts with label penguatan iman. Show all posts

10 Jun 2017

Ibadah Sia-sia dan Murni

www.renunganhariankristen.com
www.renunganhariankristen.com

Kemarahan merupakan unsur yang sering terlibat dalam konflik hubungan antar manusia. Bahkan, bagi beberapa orang kemarahan merupakan masalah yang serius dalam hidupnya dan harus mendapat perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh.
Pertengkaran sering dimulai dari komunikasi yang buruk. Kemampuan mengelola kemarahan harus dimulai dari kemampuan mengendalikan lidah. Yakobus menyarankan agar kita mengurangi kecenderungan kita untuk cepat mengeluarkan kata-kata, dan sebaliknya belajar menjadi pendengar yang baik.
Bagi orang percaya, mengendalikan lidah bukan hanya masalah etika melainkan merupakan salah satu wujud melakukan firman Tuhan. Bila kita menerima firman Tuhan, meneliti, dan melakukannya maka seharusnya kita juga mampu mengekang lidah kita. Bahkan bagi Yakobus, ketidakmampuan mengekang lidah menjadi tanda suatu ibadah yang sia-sia. Mereka yang pernah sakit hati oleh perkataan kita tentu juga akan memberikan cibiran yang senada, “Percuma rajin ke gereja kalau perkataannya selalu menyakiti orang lain”. Ibadah yang murni ditandai dengan mempraktekkan firman Tuhan dalam kehidupan kita.
Kapan dan kepada siapa Anda melontarkan kata-kata pedas yang membangkitkan kemarahan orang lain? Apapun alasannya, mintalah pengampunan dari Tuhan, jikalau perlu lakukan pemberesan dengan orang tersebut!
Mintalah kekuatan agar Anda dapat memakai lidah Anda mengeluarkan perkataan yang baik dan membangun orang lain! [GKBJ – Renunganhariankristen.com]

Note: artikel ini telah dipublikasikan terlebih dahulu oleh Renunganhariankristen.com

30 Apr 2014

Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi menjadi seorang jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan ia selalu berdoa kepada Tuhan agar impiannya suatu saat nanti akan menjadi kenyataan.


Sayangnya, ketika dirinya hendak bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak karena memiliki telapak kaki yang rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan mimpinya dan mulai menyalahkan Tuhan karena tidak menjawab doanya. Ia merasa kalah dan memiliki rasa amarah yang belum pernah dimiliki sebelumnya.


Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun kini dia tidak mempercayai-Nya lagi sebagai seorang sahabat. Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke gereja. Ketika orang-orang berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang kebingungan.


Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Setelah beberapa tahun kemudian, dia menjadi seorang ahli bedah yang handal dan terkenal. Sekarang semua pasiennya yang tadinya tidak memiliki kemungkinan hidup lagi, kini mempunyai kesempatan untuk hidup yang baru. Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan banyak nyawa, baik anak-anak maupun orang dewasa. 

Ketika dirinya tidak lagi muda, ia melatih para ahli bedah lainnya sehingga lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.


Pada suatu hari ia meninggal dan pergi menjumpai Tuhan. Di tempat itu, pria tersebut bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, "Pandanglah ke langit, anak-Ku, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan."


Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa agar bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Dirinya menjadi sombong dan ambisius yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk bertempur dalam suatu perang dan berada di garis depan. Di posisinya tersebut, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangisi kepergiannya.


Lalu Tuhan berkata, "Sekarang lihatlah bagaimana rencana-Ku telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya. Hari demi hari, ada begitu banyak nyawa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya. Kehidupan baru telah diberikan Tuhan kepada mereka melalui dirinya dengan menjadi seorang ahli bedah.


Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian yang sama dengan dirinya untuk menjadi seorang prajurit, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui operasi bedah yang dilakukannya. Hari ini, anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Pria tersebut telah menyelamatkan nyawanya.


Pada hari itu, ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alat-Nya untuk menyelamatkan banyak jiwa dan memberikan kesempatan kepada seorang anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit.


Sumber : renungan-harian.com

1 Aug 2013

Surat Dari Tuhan: Aku Menjawab Doa

Anak-Ku Tercinta,

Apakah Aku akan memberimu segala hal yang kamu minta? Nah, menjawab dia merupakan urusan-Ku. Sejumlah orang mengatakan," Berhati-hatilah dengan yang kamu doakan, karena itu bisa terjadi." Kukatakan, "jika kamu berdoa sesuai dengan yang Kuinginkan, maka akan terjadi."

Sekarang janganlah datang kepada-Ku dengan doa yang meminta jagat raya bisa muat di dalam sarung tangan base ball mu atau menginginkan semua mobil yang ada di Amerika. Jadilah realistis. Tetapi jika ada sesuatu yang ingin kamu minta kepada-Ku –sesuatu yang tak dapat kamu lupakan- maka doa itu mungkin berasal dari-Ku. Doakanlah kembali kepada-Ku dan percayalah kalau Aku akan menjawabnya.

Ingatlah, Aku dapat melakukan apa pun. Tiada istilah orang yang percaya secara berlebih-lebihan terhadap-Ku. Mintalah saja kepada-Ku.

Sang Pemberi,
Tuhan

Sumber : disadur dari email dari Tuhan (Claire Cloninger & Curt Cloninger)

18 Jun 2012

Doa Pengubah Segalanya

Kekuatan doa begitu kuat, sehingga siapapun dapat membuat perubahan besar, bahkan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti kisah nyata yang dialami seorang kasir wanita bernama Angela Montez. Seorang perampok mendatangi tokonya dan menodongkan pistol tepat dikepala Angela.

Sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Seketika Angela berkata kepada perampok itu untuk tidak menyianyiakan hidup dan mengajaknya untuk mulai berdoa. Tidak terduga, perampok itupun berlutut  dan berdoa bersama Angela selama 10 menit. Bahkan mereka berdua berpelukan, sebelum sang perampok melarikan diri.

Angela pun menceritakan sepuluh menit yang mengubah hidup sang perampok dan dirinya sendiri. Ternyata sang perampok adalah tunawisma yang membutuhkan uang untuk hidup. Dengan bersimpuh pada dua lututnya, sang perampok menangis dan meinta maaf. “Bu saya tidak mau melakukan ini. Tapi saya tahu bahwa anda akan segera menelepon polisi. Tapi aku harus melakukan ini,” kata sang perampok.

28 May 2012

Mengayuhlah Terus, Aku Bersamamu

Pada awalnya aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat, seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya tapi aku tidak mengenal-Nya.

Namun ketika aku bertemu Yesus untuk pertama kalinya, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

18 Apr 2011

Jangan Ragukan Kasih Allah


Tidak seperti di malam-malam sebelumnya, Andre menghampiri ayahnya yang sedang menyelesaikan pekerjaan kantor untuk keesokan harinya. Dengan langkah gontai, bocah berusia 7 tahun itu berjalan menuju tempat dimana sang ayah berada.

Sesampainya di ruangan, Andre lalu menangis tersedu-sedu di samping kursi sang ayah. Kaget mendengar tangisan anaknya, sang ayah pun mengangkat badan buah hatinya tersebut dan menaruhkannya di paha kanannya. Dengan nada bicara yang penuh kelembutan, ayahnya menanyakan kondisi Andre.

“Nak, kamu kenapa nangis?,” ujar sang ayah.

Sambil terisak-isak, Andre menjawab pertanyaan ayahnya, “Andre menangis karena ayah gak sayang Andre”.

Mendengar jawaban sang anak, Ayahnya pun kembali melontarkan pertanyaan, “Mengapa kamu bisa bicara seperti itu?”

Andre yang masih menangis berkata, “Hanya perasaan aku saja”

Sang ayah pun tersenyum dan mulai memeluk erat anaknya tersebut, “Andre, andre. Ayah tuh sayang banget sama kamu”

“Apakah selama ini, ayah berlaku jahat sama kamu? Kalau ayah pernah memukul kamu, itu pun kalau kamu berbuat nakal. Ayah melakukan itu bukanlah karena ayah membenci kamu tapi karena ayah ingin kamu sadar dengan perbuatan kamu tersebut”

“Kamu buang-buang jauh perasaan kamu itu. Ingat ya Andre, ayah tuh sangat sayangggg sama kamu,” ujar ayah sambil memeluk erat anaknya itu.

Perlahan tapi pasti, volume tangisan Andre semakin berkurang. Tak menunggu waktu lama, wajahnya kembali sumringah. Andre pun menghadiahkan ciuman ke pipi ayahnya sebagai bentuk tanda ia juga mengasihi ayahnya. Malam itu pun dilalui Andre dan sang ayah dengan tidur bersama di ruang kamar tidur buah hatinya.

Tanpa kita sadari, kita suka melakukan kepada Allah, perbuatan yang seperti apa di oleh Andre kepada ayahnya. Kita menangis dan meragukan kasih setia-Nya ketika keinginan doa-doa kita tidak terkabulkan. Padahal, DIA sudah berulang-ulang kali menunjukkan rasa cinta-Nya kepada kita.

Kematian Tuhan Yesus di kayu salib ribuan tahun yang lalu adalah bukti paling terbesar bagaimana ia begitu menyayangi kita. Jika begini, haruskah kita meragukan kasih-Nya dalam hidup kita?
Sumber : jawaban.com

5 Apr 2011

Jangan Menyerah


Setelah dua tahun mengalami suatu penyakit autoimun langka yang tiba-tiba menyebabkan kebutaan, Lisa Fittipaldi setiap hari bangun pagi, membuka matanya dan berjalan menuju jendela ruang tidurnya. "Dan kemudian,” katanya, “menjadi jelas bagiku, seperti seember es dituangkan ke atas kepalaku, bahwa aku tidak dapat melihat. Aku segera merasa ketakutan.”

Demi memberi semangat kepada Lisa, suaminya, Al, mendorong Lisa untuk menemukan asalan untuk hidup, namun semuanya seperti sia-sia. Hingga di tahun 1995, setelah mempelajar bahwa para ahli psikologi menyarankan seni sebagai terapi depresi, ia membeli seperangkat cat air. “Saya berikan kepadanya dan berkata ‘Aku tak peduli dengan apa yang akan kaulakukan – pokoknya lakukan sesuatu!’” cerita Al. Marah dengan apa yang Lisa sebut ketidakpekaan suaminya, Lisa yang belum pernah melukis sebelumnya membuat sketsa sebuah lukisan dari ingatannya tentang empat botol kaca dengan empat warna. Ia berhasil menangkap indahnya gabar itu dengan ketajaman yang luar biasa.


Al takjub dengan kebangkitan dalam diri Lisa, sehingga ia mendorongnya untuk mendaftar ke kelas pengajaran seni selama dua minggu di Louisiana Tech University di Ruston, Louisiana. Disanalah Lisa belajar tehnik-tehnik dasar melukis begitu juga dengan strategi menghafalkan peralatan lukisnya dan menciptakan garis besar lukisannya. Dengan mengabaikan nasihat orang-orang tentang kebutaannya yang menyarankannya untuk mengambil jalur abstrak, Lisa memilih gaya melukis realis. Gurunya kagum dengan kemampuannya menangkap “semangat batin sejati” dari subjek lukisannya.

Tiga tahun kemudian, suaminya mengisimkan sejumlah karyanya ke beberapa galeri seni, yang akhirnya menarik perhatian Florence Art Galleries di Dallas, Texas. Pada pameran pertamanya, Lisa berhasil menjual ke empat belas lukisannya sehingga merintis jalan keberhasilannya. Lukisannya, terutama cat air dan minya, sekarang ini tergantung di lebih dari tiga puluh galeri di seluruh dunia.

Kisah Lisa Fittipaldi mengingatkan kita bahwa jika Tuhan mengijinkan sesuatu yang buruk menimpa hidup kita, Ia pasti memiliki rencana yang indah dibaliknya. Untuk itu jangan kita kecewa, marah atau putus asa. Jangan pernah putus asa kepada diri kita sendiri ataupun kepada mereka yang mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya.


Sumber : Dibangunkan Terhadap Takdir; Terry Christ, Immanuel Publishing

4 Jan 2011

Batas


Siapa yang tidak suka bermain? Sejak kecil kita akrab dengan kegiatan bermain. Permainan fisik, misalnya olahraga. Permainan otak yang mendidik. Atau, permainan yang membangun kebersamaan. Semua permainan memiliki aturan main. Ada batas-batas yang mengendalikannya. Lapangan badminton punya garis pembatas. Sepakbola punya batas waktu. Langkah-langkah tertentu membatasi permainan di papan catur. Permainan kelereng pun dibatasi cara bermain yang disepakati bersama. Melanggar batas berarti mengacau permainan, dan akan kena sanksi.

Kitab Yosua sampai pasal 13 mengisahkan bagaimana Israel—dipimpin Yosua—memasuki Kanaan. Bertempur di medan laga. Namun, memasuki pasal 14 dan seterusnya, suasana berubah. Mereka memasuki periode kehidupan yang lain. Tahap yang baru. Saatnya menata kehidupan bersama. Maka, Tuhan menuntun Yosua mengatur batas wilayah bagi masing-masing suku. Dari kehidupan mengembara di padang liar tanpa batas, mereka belajar hidup bersama dalam batas-batas yang harus dihormati di Tanah Perjanjian. Batas-batas itu kelak menentukan hak, warisan, dan pusaka masing-masing. Dan, agar tidak kacau, sejak semula batas-batas sudah ditegaskan dan ditegakkan.

Tuhan mencipta kita dengan banyak aspek hidup yang masing-masing juga ada batasnya. Kehidupan bersama akan berjalan baik hanya jika batas-batas itu disadari, dihormati, dipelihara. Makan ada batasnya. Berbicara ada batasnya, tak asal buka mulut. Bekerja mengenal batas kemampuan, waktu, peraturan. Pergaulan sehat dibatasi kesopanan dan tata susila. Hidup ini seperti sebuah permainan, semua harus bermain dalam batas-batas aturan mainnya.

SUDAHKAH KITA MENYADARI, MENGHORMATI

DAN MEMELIHARA BATAS-BATAS DALAM KEHIDUPAN KITA?

Penulis: Pipi Agus Dhali

15 Dec 2010

Kisah Menarik Di Malam Natal


Lukas 2:14 - "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Efesus 2:17-18 - Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

Pada tahun 1914 ada sebuah kisah menarik yang terjadi di malam Natal. Saat itu terjadi peperangan antara Inggris, Jerman dan Perancis. Di malam Natal seperti itu, pastilah para prajurit ingin berada di rumah, berkumpul dengan keluarga, menyiapkan kado-kado, bernyanyi dan menikmati sukacita serta hidangan yang enak. Tapi kali ini mereka berada jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Salju yang turun menambah dinginnya udara malam dan dinginnya hati mereka. Perut lapar, pakaian yang basah, dinginnya udara dan tempat tinggal yang becek serta ketidaknyamanan suasana perang merupakan satu harmoni yang semakin menghilangkan semangat untuk mengangkat senjata. Ada satu kerinduan untuk duduk bersama keluarga didepan perapian sambil mengunyah kue-kue yang lezat.




Seorang prajurit yang tertembak merintih menahan sakit, sementara yang lain menggigil kedinginan. Pimpinan mereka pun malam itu tidak seperti biasanya. Ia kelihatan sangat bersedih, menangis teringat akan anak dan isterinya. Entah kapan mereka akan pulang dan berada ditengah orang-orang yang mereka kasihi. Mereka semua diam membisu selama beberapa jam, tetapi tiba-tiba nampak cahaya kecil yang bergerak-gerak dari arah pasukan Jerman. Ternyata ada prajurit Jerman yang membuat pohon Natal kecil dan mengangkatnya keatas agar kelihatan. Ia melakukan itu sambil mengalunkan lagu "Stille Nacht, Heilige Nacht" atau lagu "Malam Kudus". Alunan lembut lagu itu membuat hati para prajurit pilu karena mereka teringat suasana Natal ditengah-tengah keluarga. Prajurit Jerman yang menyanyikan lagu itu ternyata adalah seorang penyanyi tenor opera terkenal sebelum dikirim ke medan perang. Sambil menyanyi, prajurit itu berdiri dari tempat persembunyiannnya sehingga musuh dapat melihatnya. Ia ingin menyampaikan makna Natal yang sesungguhnya, yaitu berbagi kasih dan damai. Prajurit tersebut bersedia mengorbankan nyawanya, ia bersedia ditembak oleh musuh karena mereka pasti bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi, apakah yang terjadi?

Satu per satu dari masing-masing pasukan keluar dari persembunyian dan ikut menyanyi. Mereka berkumpul bersama dan air mata tidak tertahankan. Seorang prajurit Inggris musuh bebuyutan Jerman malah mengiringi nyanyian tersebut dengan sebuah alat musik tiup yang dibawanya. Tidak ada lagi lawan, tidak ada peperangan, tidak ada benci, yang ada hanya kedamaian didalam kebersamaan. Mereka semua bersama-sama menyanyi dalam bahasa mereka masing-masing, dilanjutkan lagi dengan lagu "Hai Mari Berhimpun". Mereka yang tadinya adalah musuh yang berusaha saling membunuh, kini merasakan aliran damai Natal. Mereka bersama-sama menyembah dan bersyukur atas kelahiran Juruselamat.

Saat ini, jika masih ada luka, kekecewaan, dan kebencian terhadap seseorang, biarkan kuasa Yesus Sang Juruselamat menyembuhkan serta menggantinya dengan damaiNya!

DOA: Ya Tuhan Yesus, pulihkanlah hatiku dari segala luka, kekecewaan dan kebencian. Penuhilah hatiku dengan damaiMu dan jadikan aku baru. Dalam Nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

12 Dec 2010

kamu tetap BERHARGA...

Suatu hari, ada seorang kakak rohani memulai khotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya, “Siapa diantara kamu yang mau uang ini, kalo aku kasih ke kamu?” Ternyata banyak yang mengangkat tangan.

Katanya lagi, “Ya, ini akan kuberikan, tapi sebelumnya biar aku melakukan hal ini.” Kakak rohani tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu menjadi gulungan kecil yang kumal.

Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula: lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya, “Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja banyak yang mengangkat tangan, sebanyak yang tadi.

“Oke, akan aku kasih, tapi biarkan aku melakukan hal ini.” Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi, “Siapa yang masih mau?” Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

“Nah, saudaraku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya udah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal, tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.

Sama seperti kita. Meskipun kalian jatuh, ketimpa tangga pula... lagi sakit, lagi hancur, atau kalian gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kalian tetap nggak kehilangan nilaimu... karena kalian begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu.”

“Kalian akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi saudaramu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama di mata Allah. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, kalo kalian berjalan menuju ke arah Dia. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena pada sadarnya kita semua mulia. So, datanglah ke Allah, karena disanalah nilai dirimu berada.”

Guys, jangan kecewa dengan keadaanmu sekarang, kalian tetap SPESIAL di mata-Nya. Nggak perlu pahit dengan orang-orang yang pernah melukai kita, LEPASKAN PENGAMPUNAN, karena mengampuni akan MEMERDEKAKAN kita. Meskipun kita tahu, justru kita paling sakit sewaktu orang yang kita KASIHI melukai kita. Tapi ingat satu hal, kalo kita TETAP BERHARGA buat Tuhan meskipun kita merasa kita penuh dengan luka.


sumber: Future Generation

8 Dec 2010

Sebuah Bejana Pilihan


Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia – manakah yang akan terpilih? “Pilihlah saya”, teriak bejana emas, “Saya mengkilap dan bercahaya. Saya sangat berharga dan saya melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan saya akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti Engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!”

Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani Engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggur-Mu dan aku akan berada di meja-Mu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memuji-Mu.”

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga. Bejana ini lebar mulutnya dan dalam, dipoles seperti kaca. “Sini! Sini!” teriak bejana itu, “saya tahu saya akan terpilih. Taruhlah saya di meja-Mu, maka semua orang akan memandangku.”

“Lihatlah saya”, panggil bejana kristal yang sangat jernih. “Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya saya. Meskipun saya mudah pecah, saya akan melayani Engkau dengan kebanggaan saya. Dan saya yakin, saya akan bahagia dan senang tinggal dalam rumah-Mu.”

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. “Engkau dapat memakai saya, tuanku”, kata bejana kayu. “Tapi aku lebih senang bila Engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.”

Kemudian Tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.

“Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan Kupakai, dan akan Aku buat sebagai milik-Ku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong. Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar. Tetapi yang Kucari adalah bejana yang sederhana yang akan Kupenuhi dengan kuasa dan kehendak-Ku.”

Kemudian Ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki, membersihkan dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepadanya. “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.” (jc/net)
Sumber : Hariansumutpos.com

20 Nov 2010

Berharga Di Mata Tuhan


“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” ( Lukas 15:10)
Bukanlah suatu kebetulan jika pasal 15 Injil Lukas ini berbicara tentang perumpamaan sesuatu yang hilang: domba yang hilang (ayat 1-7), dirham yang hilang (ayat 8-10) dan anak yang hilang (ayat 11-32). Semuanya itu mengarah kepada suatu keseimpulan: apa pun keadaan dan bagaimana pun kondisi kita saat ini, Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia sangat mengasihi kita dan kita sangat berharga di mataNya. Ini Tuhan tegaskan juga melalui nabi Yesaya, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,…” (Yes 43:4).

Dia tidak menghendaki satu jiwa pun terhilang dan binasa. Jika tidak demikian, mana mungkin malaikat-malaikat bersukacita di Sorga ketika ada satu orang berdosa yang bertobat? Di dalam mazmurnya Daud pun mengungkapkan kekagumannya kepada Allah yang begitu peduli kepada manusia, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Mazmur 8:4-6).

Dan bukti nyata bahwa Allah sangat mengasihi manusia adalah saat Ia mengutus Putera-Nya turun ke dunia, berkorban bagi manusia.
Ketika salah satu dari anak-anakNya hidup semakin jauh dari Nya dan terhilang di tengah-tengah dunia yang penuh dosa, Dia sangat sedih dan berduka. Itulah sebabnya Tuhan selalu berusaha mendapatkan kita kembali, seperti seorang Bapa yang dengan setia menantikan si bungsu kembali pulang ke rumah, sehingga “…Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
(2 Petrus 3:9).

Tuhan sangat menaruh hati dan kerinduan-Nya terhadap kita. Dia juga rindu supaya kita yang sudah diselamatkan agar tidak “egois” dan mau ambil bagian menjangkau jiwa-jiwa yang ada di sekeliling kita yang sedang menuju kebinasaan. Membawa jiwa-jiwa yang terhilang untuk kembali kepada Tuhan adalah tugas yang harus kita kerjakan. Ini berarti kita harus bekerja dan menghasilkan buah!

Wawancara Dengan Tuhan



Aku bermimpi melakukan wawancara dengan Tuhan.

“Masuklah,” kata Tuhan. “Jadi, Anda ingin melakukan wawancara dengan saya?”

“Jika Anda punya waktu,” jawabku.

Tuhan tersenyum dan berkata, “Waktu saya adalah kekal. Ini cukup untuk melakukan apapun. Pertanyaan apa yang ada di pikiran Anda yang ingin ditanyakan pada saya?”

Aku bertanya, “Hal apa yang paling mengejutkan Anda yang Anda temukan pada manusia?”
Tuhan berpikir sebentar dan kemudian menjawab, “Mereka bosan menjadi anak-anak dan buru-buru ingin bertumbuh dewasa, dan kemudian ingin kembali menjadi anak-anak.

Bahwa mereka mengorbankan kesehatan mereka demi menghasilkan uang dan kemudian menggunakan uang itu untuk memulihkan kesehatan mereka kembali.

Mereka begitu cemas tentang masa depan, tapi mereka lupa untuk hidup di saat ini, akhirnya mereka tidak hidup di masa kini maupun di masa depan.

Mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan akhirnya mereka mati seperti mereka tidak pernah hidup.”

Tuhan menaruh tangan saya di atas tangannya dan kami terdiam sebentar. Kemudian aku bertanya,

“Sebagai orangtua, pelajaran hidup seperti apa yang Anda ingin agar anak-anak Anda pelajari?”
Tuhan menjawabnya sambil tersenyum, “Belajar bahwa mereka tidak bisa membuat orang lain mencintai mereka. Yang mereka bisa lakukan hanyalah membiarkan diri mereka dicintai.

Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri mereka dengan orang lain. Setiap orang akan di hakimi atas tindakannya masing-masing, bukan berdasarkan perbandingan antara satu sama lin.

Belajar bahwa orang kaya bukanlah mereka yang memiliki banyak hal, namun mereka yang memiliki kebutuhan paling sedikit.

Mereka juga harus belajar hanya membutuhkan beberapa detik untuk melukai orang yang kita cintai, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan mereka.

Belajar untuk memaafkan dengan menerapkan pengampunan. Belajar bahwa ada orang yang sangat mencintai dirinya, namun orang itu tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya itu.

Belajar bahwa uang bisa membeli segalanya kecuali kebahagiaan.
Belajar bahwa dua orang dapat melihat satu hal yang sama namun memiliki dua pendapat yang jauh berbeda.

Belajar bahwa teman sejati adalah seseorang yang tahu segala sesuatu tentang hidupnya… namun tetap mengasihinya.”

Saya duduk disana sambil menikmati kunjungan saya di rumah Tuhan itu.

Lalu saya mengakhirnya dengan berterima kasih atas waktu-Nya dan atas semua yang telah Ia lakukan untuk saya dan keluarga saya.

Dia menjawab, “Tentu. Kapan saja, 24 jam saya ada disini. Yang Anda harus lakukan hanyalah bertanya pada saya dan saya akan menjawabnya.”
Sumber : Inspirationalstories.com

11 Nov 2010

Sebuah Hadiah Dari Tuhan : Sahabat


Hari itu adalah hari pertama saya masuk SMA, saya melihat seorang anak dari kelas saya pulang sekolah dengan membawa semua bukunya. Namanya Kyle. Saya berpikir, “Mengapa dia membawa pulang semua bukunya di hari Jumat? Pasti dia orang yang aneh.”

Saya sendiri sudah memiliki rencana untuk akhir minggu ini, pesta dan nonton pertandangan sepakbola. Jadi saya mengangkat bahu saya dan kembali berjalan pulang.

Dalam perjalanan, saya melihat beberapa anak lain berlari melewati Kyle dan menyenggolnya. Kyle terjatuh, buku-bukunya berhamburan, kacamatanya terlempar dan saya berdiri sekitar sepuluh kaki di belakangannya. Saya melihat matanya terlihat sangat sedih. Hati saya merasa kasihan, jadi saya mendekatinya dan membantunya bangun.

Saat saya menemukan kaca matanya dan memberikan kepadanya, saya berkata, “Anak-anak itu pecundang. Mereka harusnya agak menjauh tadi.”

Dia menatap saya dan berkata, “Terima kasih!” Terlihat sebuah senyum yang besar di wajahnya.

Senyum itu benar-benar tulus yang mengungkapkan rasa terima kasih. Saya membantunya memunguti bukunya yang berhamburan, dan bertanya dimana dia tinggal. Ternyata dia tinggal tidak jauh dari saya. Tapi saya belum pernah melihat dia di lingkungan saya sebelumnya, jadi saya bertanya. Kyle mengatakan dia sebelumnya mengikuti sekolah khusus.

Sepanjang perjalanan pulang, kami banyak berbincang dan saya membawakan beberapa bukunya. Ternyata dia anak yang cukup asik. Saya mengajaknya untuk bermain bola Sabtu besok dengan teman-teman saya, dan dia menjawab, “ya.”

Semakin saya mengenal Kyle, semakin saya suka dengannya. Selama empat tahun kemudian, kami menjadi teman baik. Hingga hari kelulusan menjelang, Kyle yang lulus dengan nilai terbaik diminta untuk menyampaikan pidato perpisahan. Saya sangat bersyukur, bukan saya yang diminta untuk menyampaikan pidato itu.

Pada hari kelulusan saya bertemu dengan Kyle. Dia terlihat sangat hebat. Dia adalah salah satu dari pria-pria yang favorit semasa SMA. Sangat bersemangat dan terlihat gagah dengan kacamatanya. Lebih banyak gadis yang menyukai dia dari pada saya. Terkadang saya iri juga kepadanya.

Saya lihat dia sangat gugup menjelang pidatonya, jadi saya pukul dia dari belakang, “Hei bung, kamu pasti hebat!” Dia melihat saya dan tersenyum. “Terima kasih,” ungkapnya.

Ketika dia mulai berpidato, dia menarik nafas panjang dan mulai berkata, “Kelulusan adalah waktu untuk berterima kasih kepada mereka yang menolong kita menjalani tahun-tahun yang berat. Orang tua Anda, guru Anda, saudara Anda, mungkin pelatih.., tetapi yang terutamama adalah teman-teman. Saya disini untuk memberi tahu Anda bahwa menjadi teman seseorang adalah hadiah terindah yang bisa Anda berikan. Saya akan menceritakan sebuah cerita kepada Anda.”

Saya hanya memandang sahabat saya itu dengan rasa tidak percaya, ketika ia menceritakan perjumpaan pertama kali kami saat ia jatuh dengan buku-bukunya itu. Saat itu dia sedang merencanakan untuk bunuh diri di akhir minggu itu. Dia mengatakan sengaja membawa semua benda miliknya pulang, sehingga ibunya tidak perlu lagi melakukannya nanti. Dia memandang lurus pada saya dan tersenyum, “Untunglah saya diselamatkan. Sahabat saya telah melakukan sesuatu yang tidak terkatakan.”

Saya mendengar tepuk tangan dari kerumunan bagi pria gagah yang menceritakan masa terlemah dalam hidupnya itu. Saya melihat ayah dan ibunya memandang saya dengan senyuman penuh terima kasih. Hingga saat ini, saya tidak pernah tahu bahwa apa yang saya lakukan ternyata berdampak begitu besar.

Jangan pernah menganggap remeh tindakan-tindakan kecil Anda yang Anda lakukan, karena tanpa Anda sadari hal tersebut mengubah kehidupan orang lain. Tuhan menaruh dalam hidup setiap oprang untuk memberi dampak bagi kehidupan orang lain dengan berbagai cara yang unik. Jadi setiap kali Anda melihat kesempatan untuk berbuat baik, lakukanlah dengan sebuah ketulusan dan sukacita. Anda tidak akan pernah tahu bahwa senyuman Anda atau uluran tangan Anda telah menyelamatkan jiwa seseorang.
Sumber : Inspirationalstories.com

3 Nov 2010

Benih Dalam Kehidupan


Jika Anda menanam kejujuran, Anda akan menuai kepercayaan

Jika Anda menanam kebaikan, Anda akan menuai teman

Jika Anda menanam kerendahan hati, Anda akan menuai penghargaan

Jika Anda menanam ketekunan, Anda akan menuai kepuasan

Jika Anda menanam pertimbangan, Anda akan menuai cara pandang

Jika Anda menanam kerja keras, Anda akan menuai kesuksesan

Jika Anda menanam pengampunan, Anda akan menuai pemulihan hubungan

Jika Anda menanam iman di dalam Kristus, Anda akan menuai buah-buah roh

Jadi perhatikan benih apa yang Anda tanam saat ini; Apa yang Anda tanam saat ini akan menentukan apa yang akan Anda tuai nanti.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. ~ Galatia 6:7
Sumber : Fathershands.com

30 Oct 2010

Air


Air dikenal sebagai komponen terpenting dari kehidupan. Semua makhluk membutuhkannya untuk hidup. Itu sebabnya, air pulalah yang dijadikan indikator utama oleh para peneliti untuk mencari kehidupan di luar angkasa. Sebuah benda langit yang tidak mengandung air, diyakini tidak bisa memiliki kehidupan juga.

Sebaliknya, benda langit yang mengandung air seperti planet Mars atau bulan dari planet Yupiter yang bernama Europa, diduga dapat menyokong kehidupan. Pemahaman akan pentingnya air ini dimengerti benar oleh bangsa Israel kuno. Hidup di daerah yang memiliki banyak gurun membuat mereka tahu persis pentingnya air. Itu sebabnya dalam perjalanan keluar dari Mesir menuju Kanaan, bangsa Israel biasanya berhenti di dekat sumber air, seperti di Mara dan Elim dalam bacaan kita hari ini.

Sungguh tragis bahwa sekarang banyak sumber air yang telah rusak oleh karena kecerobohan atau keserakahan manusia. Kalau di Mara, Tuhan membuat air yang tidak layak minum menjadi layak, pada zaman ini manusia melakukan sebaliknya—kita membuat air yang bersih menjadi tidak layak pakai. Kita perlu berjuang keras untuk menghentikan tindakan perusakan ini dan bahkan berusaha memperbaikinya. Kita perlu menggunakan air dengan bertanggung jawab. Kita harus berhenti mengotori sungai-sungai kita dengan berbagai sampah dan limbah industri.

Atau, dimulai dari tempat tinggal kita, dengan tidak menutup tanah yang tersisa dengan semen dan batu bata. Agar cukup tempat untuk peresapan air; agar ada air tanah dengan kualitas yang baik.

KETIKA MENCIPTA AIR, ALLAH MEMBUBUHKAN KEHIDUPAN AGAR AIR MENOPANG HIDUP MANUSIA YANG DICINTAI-NYA

Penulis: Alison Subiantoro (e-RH)

24 Oct 2010

Tali Tambang

Mazmur 39:5-8

Suatu pagi, saya mendampingi teman sekampus yang memakamkan
ibunya. Sorenya, seorang teman lain menikah. Hidup terkadang
memiliki jalan yang begitu unik dalam membelitkan suka dan duka.
Satu kali Nobita-sebuah karakter kartun Jepang-meminta pada Doraemon
-sahabatnya-agar ia bisa selalu beruntung dalam hidup. Namun,
Doraemon mengangkat sebuah tali tambang dan menunjukkan bahwa tali
yang kokoh itu terdiri dari dua helai tali yang saling melilit. Dan
ia mengibaratkan dua tali itu sebagai kebahagiaan dan kesedihan
hidup yang terangkai menjadi satu.

Kesedihan akan diganti dengan kegembiraan, sebaliknya kegembiraan
juga tidak akan berlangsung terus-menerus karena akan ada kesedihan
di depan sana. Hidup tidak bisa menawarkan kepastian pada manusia.
Sekokoh dan semapan apa pun kita membangun hidup, semua itu fana dan
bisa runtuh dalam sekejap. Dan akhirnya, hal yang paling pasti dalam
hidup ini adalah betapa fananya hidup manusia.

Pemazmur tampaknya sangat memahami fakta ini. Ketika ia merenungi
betapa fananya hidup di dunia, maka ia menyadari betapa banyaknya
hal sia-sia yang diributkan manusia (ayat 7). Satu harapan paling
kokoh yang kita miliki hanyalah pada Tuhan. Rasa percaya kita
kepada-Nya tidak akan pernah sia-sia. Dari titik kesadaran ini,
alangkah baiknya jika kita mengurangi perhatian pada hal-hal fana
yang kerap dipermasalahkan dengan sesama manusia. Tata ulang
prioritas hidup kita. Dan biarlah kita semakin giat melakukan
hal-hal penting yang akan mempersiapkan kita menjelang kehidupan
kekal yang tak mengenal kefanaan --OLV

TUHANLAH SATU-SATUNYA YANG BISA KITA PERCAYA
DI TENGAH KETIDAKPASTIAN HIDUP

20 Oct 2010

Siapa Peduli?


Akhir April yang baru lalu, terjadi sebuah peristiwa tragis. Hugo
Tale Yax, seorang gelandangan, tertikam senjata tajam karena
menolong seorang perempuan yang dirampok di jalanan New York.
Sementara ia sekarat di pinggir jalan selama dua jam, tak seorang
pun cukup peduli untuk menolongnya. Sebenarnya banyak orang berlalu
lalang di situ. Ada yang memotret, memperhatikan, juga mencoba
mengangkatnya dari genangan darah, tetapi kemudian meninggalkannya.
Ironisnya lagi, peristiwa ini terjadi di kota di mana kantor pusat
PBB yang mengurus masalah kemanusiaan berada.

Akhirnya, polisi menemukan gelandangan baik hati itu telah menjadi
mayat. Jangan kaget apabila ketidakpedulian itu setua umur manusia
di bumi. Ketika Habel sekarat dan darahnya tersembur dari tubuhnya,
kakaknya pun tak peduli padanya hingga Habel tewas. Sifat iri hati,
mau bersaing, dan mementingkan diri sendiri membuat manusia makin
tak peduli pada nilai kehidupan sesamanya. Namun, sekalipun manusia
hanya setitik debu di hamparan jagat raya, Allah Sang Pencipta
justru peduli pada jerit darah Habel yang tertumpah, pada nyawanya
yang meregang ditinggalkan sang kakak, yang lebih kuat, yang
seharusnya melindungi adiknya.

Pada zaman modern di mana tingkat persaingan makin tinggi, ketika
hati manusia semakin dingin dan lebih mencintai dirinya sendiri,
setiap pengikut Kristus dipanggil untuk mendemonstrasikan kasih
kepada sesama dalam tindakan nyata. Kepedulian memang tidak
menghentikan kejahatan, tetapi bisa memberi kesempatan kepada mereka
yang terkapar sebagai "korban ketakpedulian" untuk tetap hidup dan
berjuang dengan penuh harapan —-SST

SAAT DUNIA TAMPAK SEMAKIN TIDAK PEDULI
ANAK-ANAK TUHAN MESTI SEMAKIN GIAT MENGASIHI

15 Oct 2010

Raih Kemenangan Sejati


Hari ini, hampir setiap orang menyukai permainan video games, baik itu berupa playstation, games online atau games yang ada di telephone genggam. Mengapa mereka menyukai permainan ini, bahkan ada yang kecanduan? Karena mereka dapat merasakan kemenangan.

Kemenangan, poin dan juga hadiah yang mereka kumpulkan, sekalipun hal itu tidak nyata, namun sensasi yang dirasakannya sangat nyata, sensasi kemenangan itulah yang membuat seseorang kecanduan bermain game.

Manusia butuh rasa menang, rasa superior, dan menaklukan sesuatu. Mengapa? Karena hal ini berkaitan dengan identitasnya. Dalam Kejadian 1:28 Tuhan berfirman, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Manusia ditentukan untuk menaklukan dan berkuasa, untuk itulah kita begitu kecanduan dengan kemenangan. Tanpa rasa menang ini, Anda akan merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari hidup Anda. Itu sebabnya manusia mencoba segala cara untuk merasakan kemenangan, bahkan dengan sesuatu yang semu.

Pada kenyataannya, kehidupan ini setiap hari memberikan kesempatan untuk menaklukan dan menang. Namun penghargaan dan perayaan kemenangan harus dimulai oleh diri sendiri. Setiap kali Anda bangun pagi, memulai hari bersama Tuhan dan dapat sampai ke tempat kerja itu adalah sebuah kemenangan.

Ketika Anda bisa mencapai target pada hari tersebut, seperti berhasil menyampaikan presentasi, klien merasa puas dengan pelayanan Anda, maka itu adalah kemenangan Anda. Berikan ucapan selamat pada diri Anda sendiri. Buat perayaan dan penghargaan untuk diri Anda sendiri. Lakukan dengan cara sederhana namun menyenangkan, seperti semangkuk bakso atau es krim.

Sama seperti seorang olahragawan, kemenangannya dimulai dilapangan tempat ia berlatih. Kemenangan Anda dimulai dari bagaimana Anda menghargai pencapaian-pencapaian Anda setiap hari. Piala dan sorak-sorai penonton sedang menanti Anda di depan sana, itu tinggal masalah waktu saja. Namun Anda harus menjalani setiap detik kehidupan Anda sebagai seorang pemenang, karena itu adalah jati diri Anda yang sesungguhnya.

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. ~ Roma 8:37

Sumber : Puji.Smartlife

17 Sept 2010

Kehendak-Mu Yang Jadi

Seorang ibu yang mempunyai anak tunggal datang kepada seorang Hamba Tuhan dan mengutarakan isi hatinya. Pendeta, " Waktu saya berdoa, saya selalu takut untuk mengatakan kepada Tuhan, kehendakMu yang jadi. " Karena saya takut Tuhan akan mengambil anak saya satu-satunya dan juga mungkin memberikan pencobaan-pencobaan yang berat.
Nampaknya pendapat ibu ini cukup beralasan, tetapi Hamba Tuhan tersebut menjawab, "Seandainya anak ibu datang kepada anda dan anak itu mengatakan ingin melakukan apa saja yang meyenangkan hati anda, apakah anda berpikir untuk membebani anak tersebut dengan pekerjaan berat yang tidak sanggup dilakukan oleh anak ibu?" "Oh... tidak." Kata ibu itu, ‘ tentu saja saya akan memberikan pekerjaan yang dapat ia kerjakan dan yang tidak akan membuatnya celaka." Lalu hamba Tuhan itu menegaskan "Apakah anda berpikir bahwa Tuhan yang penuh kasih itu tidak mempunya hati yang lebih baik daripada hati anda?"

Terlalu sering kita merasa takut mengatakan kepada Tuhan "KehendakMu yang jadi," kita berpikir kalau berkata demikian kita akan mendapat masalah atau pergumulan yang berat. Tuhan melebihi manusia yang paling baik sekalipun. Masihkah kita harus takut untuk berkata," Biarlah kehendak-Mu yang jadi' kepada Allah?
Jika kita berkata," Biarlah kehendak-Mu yang terjadi," itu berarti kita mengijinkan rencana Allah yang indah itu terjadi di dalam kehidupan kita. Dan itu juga berarti kita siap melihat hal-hal yang terbaik yang diberikan Allah untuk kita semua.
Segala sesuatu yang datang dari Tuhan adalah indah dan tidak pernah mencelakakan anak-anak-Nya, tetapi mendatangkan kebaikan.
"Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Sorga!"
( Matius 7:11 )
 
Back To Top