TRENDING
Showing posts with label karakter. Show all posts
Showing posts with label karakter. Show all posts

4 Aug 2013

Mengampuni dan Memaafkan

Jenderal Horace Porter pernah menulis tentang percakapannya dengan Jenderal Ulysses Grant suatu malam saat mereka duduk dekat api unggun.

Ditulis oleh Porter:
"Jenderal Ulysses, Anda luar biasa, walaupun Anda dididik dalam kekerasan militer, dan selalu mengalami permainan kasar dalam tugas garis depan.

Anda tidak terpancing untuk mengumpat.
Saya tidak pernah melihat anda mengucapkan KATA-KATA KASAR sekalipun.

"Anda punya alasan untuk hal ini?", tanya Poter.

Grant menjawab,
Saya tidak mau membiasakan mengumpat. sejak remaja saya tidak pernah melakukannya, dan ketika Saya dewasa, Saya memandang mengumpat adalah sebagai suatu tindakan KEBODOHAN.

Karena kata-kata kasar membangkitkan AMARAH diri kita sendiri dan menyulut kemarahan orang lain.

Saya tidak pernah melihat kehidupan yang berkualitas dari seorang pemarah, selain LEMAH dan RAPUH dari segi spiritual.

Seorang PEMARAH, adalah seorang yang lelah, ia seorang yang berperang dengan dirinya sendiri, sekalipun ia menang, ia HANCUR.

"Tidak ada yang lebih BURUK dari pada seorang yang menjadi marah sampai ia tidak dapat menguasai diri"

"Pada saat kita marah, kita telah kalah"

"Pada saat kita membenci, Kita telah terkunci"

"Pada saat kita mendendam. Kita menjadi tawanan".

Solusi untuk hal ini adalah:
"MENGAMPUNI dan MEMAAFKAN"

Sumber: Broadcast Blackberry
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

28 Dec 2012

Alat Musik Yang Buruk Vs Alunan Musik Yang Merdu

Ada seorang kakek miskin yang tinggal di desa terpencil, ia memiliki seorang anak yang telah pindah ke kota dan menetap disana. Belum pernah sekalipun si kakek mengunjungi suatu kota maupun mengetahui seperti apa kota itu, karena si kakek tersebut tidak mempunyai televisi maupun radio.
 

Pada suatu hari anak si kakek ini datang kembali ke desa terpencil tersebut untuk mempertemukan ia dengan mantu dan cucu-cucunya. Anak ini pun mengutarakan kerinduannya untuk membawa sang ayah/si kakek ini ke kota dimana mereka tinggal. Mereka berpikir bahwa sangat menyenangkan apabila si kakek menghabiskan sisa usianya tinggal di kota bersama anak dan cucu-cucunya. 

Kakek merasa gembira setibanya di kota tempat tinggal anaknya, karena di sana banyak hal baru yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Berbagai pertunjukan menarik dan bangunan–bangunan megah terdapat di kota. 

Suatu hari sang kakek berjalan–jalan sendirian ke luar rumah, tiba–tiba ia mendengar bunyi yang amat tidak menyenangkan telinganya, bagi si kakek bunyi alat musik tersebut sangat mengganggu pendengarannya. Segrea ia pun mencari sumber bunyi tersebut, ternyata suara itu berasal dari seorang anak yang sedang belajar memainkan alat musik biola. Kakek itu pun berpikir bahwa itu alat musik yang terburuk yang pernah ada, "Aku tidak mau lagi mendengar alat musik itu", gerutunya. 

Beberapa hari kemudian ia berjalan–jalan bersama anaknya. Mereka pergi untuk menikmati Acara Natal dan Tahun Baru di pusat kota. Datanglah seorang artis dengan alat musik yang percis seperti yang ia temui beberapa hari yang lalu. 

Anak dan mantunya sangat ingin untuk berlama-lama di acara tersebut untuk menyaksikan pertunjukan alat musik biola namun sang kakek menjadi tidak senang melihat hal tersebut. Namun ketika artis itu menggesek biolanya, nada–nada lembut dan indahlah yang terdengar. Kakek pun menjadi heran. 

Ia pun berpikir lagi, "oh rupanya aku telah salah menilai, bukan biolanya yang buruk, melainkan cara memainkannyalah yang menentukan." Kakek pun memejamkan matanya menikmati alunan biola tersebut. 

Ternyata kurangnya pengetahuan menyebabkan seseorang cepat mengambil kesimpulan dan penilaian. Dan anehnya, yang seringkali terjadi penilaian dan kesimpulan tersebut pasti salah dan bahkan cenderung menyesatkan.

Sumber : ceritabijak / jp.mamora

30 Sept 2011

11 Kata Mutiara Perenungan


1. Doa bukanlah “ban serep” yang dapat Anda pergunakan ketika berada dalam masalah, namun doa merupakan “kemudi” yang menunjukkan arah yang tepat.

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil? Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita. Jadi, pandanglah ke depan dan teruslah maju.

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.


4. Semua hal dalam hidup adalah sementara. Jika berlangsung baik, nikmatilah karena tidak akan bertahan selamanya. Jika berlangsung tidak seperti yang kita harapkan, jangan kuatir karena hal itu juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas! Teman baru adalah berlian! Jika Anda kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, Anda selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata, “Tenang anak-Ku, itu hanyalah belokan, bukan akhir dari segalanya!”

7. Ketika Tuhan memecahkan masalah Anda, Anda memiliki kepercayaan pada kemampuan-Nya; Namun ketika Tuhan TIDAK memecahkan masalah Anda, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuan Anda. Anda pasti bisa mengatasinya!

8. Seorang buta bertanya pada seorang Guru, “Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?” Dia menjawab, “Ya ada, kehilangan visi!” Miliki visi dalam hidup Anda dan teruslah melangkah dengan visi itu.

9. Ketika Anda berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkan Anda dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika Anda aman dan bahagia, ingat bahwa seseorang telah mendoakan Anda.

10. Kuatir tidak akan menghilangkan masalah di hari esok, hanya akan menghilangkan kedamaian di hari ini.

11. Jawaban doa dari Tuhan tidak selalu “Yes”, tetapi terkadang “No” dengan lanjutan “Bukan itu yang terbaik untukmu..... Aku memiliki rencana yang lebih baik bagimu.”
Sumber : Berbagai Sumber

Sang Elang dan Serigala

Ada pertempuran besar yang berkecamuk di dalam diriku.

Satu sisi adalah Elang yang terbang tinggi. Semua yang Elang inginkan adalah yang baik, benar, indah, dan menjulang ke atas awan. Meskipun turun ke lembah, ia meletakkan telur-telurnya di atas puncak gunung.

Sisi lain dari diriku adalah serigala yang melolong. Ia seringkali mengamuk. Serigala yang melolong merupakan sifat terburuk yang di dalam diriku. Dia mengambil keuntungan dari kejatuhanku dan membenarkan dirinya dengan kehadirannya di dalam diriku.


Siapa yang memenangkan pertempuran besar ini? Sang Elang ataukah Serigala buas? Tentunya yang menang adalah ia yang aku berikan “makan” setiap hari.

“Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:5-6)

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:8)

14 May 2011

Mengendalikan Emosi


Suatu hari suasana seorang gadis kecil sangat buruk. Dia melampiaskan frustasinya kepada adik laki-lakinya dengan menarik rambutnya serta menendang tulang keringnya. Akhirnya, dia memukul juga. Anak laki-laki tersebut sanggup menahan semua perlakuan itu, bahkan ketika dia dipukuli sampai ketika tulang keringnya mulai ditendang. Ini menyakitkan. Dan, sambil menangis dia datang kepada ibunya dengan mengeluhkan perlakuan kakaknya.

Ibunya menghampiri gadis kecil tadi sambil berkata, "Cici, mengapa engkau mengizinkan iblis menaruh keinginannya dalam hatimu untuk menarik rambut adikmu serta menendang tulang keringnya ?"

Gadis kecil itu berfikir sesaat dan kemudian menjawab "Ibu, mungkin iblis menyuruh saya menarik rambut Tommy... tetapi menendang tulang keringnya adalah ide saya sendiri.”

Segala yang jahat di bumi ini tidak selalu berasal dari pengaruh setan. Kebanyakan malah datang dari hati manusia. Kemarahan, perasaan benci, serta frustasi bergantung pada kehendak kita sendiri. Kita dapat memilih bagaimana kita menanggapi perasaan tertekan atas prilaku orang lain. Yang harus kita lakukan adalah MENGENDALIKAN EMOSI KITA, sebab jikalau tidak, emosilah yang akan mengendalikan kita dengan semena-mena.

“Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.” ~ Amsal 14 : 17
 

Sumber : Email forward

25 Feb 2011

Pelajaran Dari Seorang Petani Jagung


James Bender, dalam bukunya “How to Talk Well” (New York;McGray-Hill Book Company,Inc., 1994) menghubungkan salah satu tulisannya dengan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan selalu memenangkan penghargaan. Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal mewawancarainya dan belajar sesuatu yang penting rahasia sukses petani tersebut.

Wartawan itu menemukan bahwa sang petani membagikan benih jagungnya kepada tetangganya. “Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama tiap tahunnya?” tanya wartawan itu.

“Kenapa?” ucap sang petani, “Apakah Anda tidak tahu? Angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka ketika terjadi serbuk silang akan menurunkan kualitas jagung saya. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula.”

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.

Demikian juga dalam berbagai aspek kehidupan yang lain. Mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya. Jika Anda ingin hidup makmur, Anda harus memulai dengan menolong orang-orang di sekitar Anda untuk meningkatkan taraf hidupnya. Demikian juga jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan dalam hidup orang lain. Jika Anda tidak mau menolong orang, Anda juga akan merasakan akibatnya.


Sumber : Heartnsouls.com

8 Dec 2010

Sebuah Bejana Pilihan


Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia – manakah yang akan terpilih? “Pilihlah saya”, teriak bejana emas, “Saya mengkilap dan bercahaya. Saya sangat berharga dan saya melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan saya akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti Engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!”

Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani Engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggur-Mu dan aku akan berada di meja-Mu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memuji-Mu.”

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga. Bejana ini lebar mulutnya dan dalam, dipoles seperti kaca. “Sini! Sini!” teriak bejana itu, “saya tahu saya akan terpilih. Taruhlah saya di meja-Mu, maka semua orang akan memandangku.”

“Lihatlah saya”, panggil bejana kristal yang sangat jernih. “Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya saya. Meskipun saya mudah pecah, saya akan melayani Engkau dengan kebanggaan saya. Dan saya yakin, saya akan bahagia dan senang tinggal dalam rumah-Mu.”

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. “Engkau dapat memakai saya, tuanku”, kata bejana kayu. “Tapi aku lebih senang bila Engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.”

Kemudian Tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.

“Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan Kupakai, dan akan Aku buat sebagai milik-Ku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong. Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar. Tetapi yang Kucari adalah bejana yang sederhana yang akan Kupenuhi dengan kuasa dan kehendak-Ku.”

Kemudian Ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki, membersihkan dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepadanya. “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.” (jc/net)
Sumber : Hariansumutpos.com

20 Nov 2010

Wawancara Dengan Tuhan



Aku bermimpi melakukan wawancara dengan Tuhan.

“Masuklah,” kata Tuhan. “Jadi, Anda ingin melakukan wawancara dengan saya?”

“Jika Anda punya waktu,” jawabku.

Tuhan tersenyum dan berkata, “Waktu saya adalah kekal. Ini cukup untuk melakukan apapun. Pertanyaan apa yang ada di pikiran Anda yang ingin ditanyakan pada saya?”

Aku bertanya, “Hal apa yang paling mengejutkan Anda yang Anda temukan pada manusia?”
Tuhan berpikir sebentar dan kemudian menjawab, “Mereka bosan menjadi anak-anak dan buru-buru ingin bertumbuh dewasa, dan kemudian ingin kembali menjadi anak-anak.

Bahwa mereka mengorbankan kesehatan mereka demi menghasilkan uang dan kemudian menggunakan uang itu untuk memulihkan kesehatan mereka kembali.

Mereka begitu cemas tentang masa depan, tapi mereka lupa untuk hidup di saat ini, akhirnya mereka tidak hidup di masa kini maupun di masa depan.

Mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan akhirnya mereka mati seperti mereka tidak pernah hidup.”

Tuhan menaruh tangan saya di atas tangannya dan kami terdiam sebentar. Kemudian aku bertanya,

“Sebagai orangtua, pelajaran hidup seperti apa yang Anda ingin agar anak-anak Anda pelajari?”
Tuhan menjawabnya sambil tersenyum, “Belajar bahwa mereka tidak bisa membuat orang lain mencintai mereka. Yang mereka bisa lakukan hanyalah membiarkan diri mereka dicintai.

Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri mereka dengan orang lain. Setiap orang akan di hakimi atas tindakannya masing-masing, bukan berdasarkan perbandingan antara satu sama lin.

Belajar bahwa orang kaya bukanlah mereka yang memiliki banyak hal, namun mereka yang memiliki kebutuhan paling sedikit.

Mereka juga harus belajar hanya membutuhkan beberapa detik untuk melukai orang yang kita cintai, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan mereka.

Belajar untuk memaafkan dengan menerapkan pengampunan. Belajar bahwa ada orang yang sangat mencintai dirinya, namun orang itu tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya itu.

Belajar bahwa uang bisa membeli segalanya kecuali kebahagiaan.
Belajar bahwa dua orang dapat melihat satu hal yang sama namun memiliki dua pendapat yang jauh berbeda.

Belajar bahwa teman sejati adalah seseorang yang tahu segala sesuatu tentang hidupnya… namun tetap mengasihinya.”

Saya duduk disana sambil menikmati kunjungan saya di rumah Tuhan itu.

Lalu saya mengakhirnya dengan berterima kasih atas waktu-Nya dan atas semua yang telah Ia lakukan untuk saya dan keluarga saya.

Dia menjawab, “Tentu. Kapan saja, 24 jam saya ada disini. Yang Anda harus lakukan hanyalah bertanya pada saya dan saya akan menjawabnya.”
Sumber : Inspirationalstories.com
 
Back To Top